DARI SISWA KE MAHASISWA?

Azhar sedang berorasi di bundaran simpang lima Banda Aceh pada saat memperingatan hari anti korupsi tahun 2010 (foto: dok. roketnews)
Mengutip kata pepatah lama, tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, warna hidup kian berganti. Pernah kita alami warna merah dan putih mendominasi pakaian kita, yang kemudian digantikan dengan biru putih lantas dengan abu-abu-putih. Pola pikir yang kita miliki sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Akhirnya tibalah kita pada saat ini dimana telah kita tinggalkan kenangan itu dan kita tanggalkan seragam itu. Kini satu predikat lagi yang menempel dalam diri kita, yakni “Mahasiswa”. 

Setelah sekian tahun gelar siswa menempel pada diri kita, kini sudah siapkah kita menyandang predikat "Mahasiswa"?. Mahasiswa berasal dari dua kata yang digabungkan, yaitu Maha dan Siswa. Maha yang artinya tertinggi sedangkan Siswa adalah bagian dari kaum terpelajar. Jadi, mahasiswa orang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Mahasiswa sering digadang-gadangkan sebagai manusia tercerahkan yang berperan sebagai agent of change dan social control di tengah masyarakat. Dalam sejarahnya, mahasiswa seringkali menjadi tumpuan dari perjuangan melawan ketidakadilan penguasa demi membela kaum mustadh’afin. Hal ini dimungkinkan karena mahasiswa adalah kaum muda yang terdidik diperguruan tinggi dan memiliki semangat perlawanan tinggi dikarenakan darah muda yang bergolak dalam dirinya.

Namun ternyata cerita hanya tinggal cerita, semangat perlawanan dan pengabdian mahasiswa terasa semakin luntur. Lihatlah bagaimana gaya hidup hedonis menjangkiti kaum muda kita, tempat berkumpul mereka bukan lagi kampus, masjid atau perpustakaan dan gedung-gedung pemerintahan untuk menyuarakan keadilan, tapi pusat-pusat perbelanjaan yang mentereng, Kafe/Warong kopi yang punya wefi dan individualis. Bahasan kajian mereka bukan lagi bagaimana menyelesaikan problem-problem sosial tapi bagaimana memuaskan keinginan dan ketenaran sesaat. Memang masih ada kaum yang bergerak di ranah pergerakan, tapi lagi-lagi aktivitas pergerakan mereka lebih didasarkan pada pemenuhan kebutuhan pribadi (pragmatisme) demi kekuasaan dengan bertekuk lutut pada kepentingan politik sesaat.

Adakah perbedaan antara siswa dengan maha-siswa?. Hal ini perlu di review ulang mengingat banyaknya mahasiswa baru maupun mahasiswa lama yang kurang memahami hal ini sehingga kurang dapat memposisikan dirinya pada tempat yang selayaknya. Jika seorang mahasiswa tidak mengetahui perannya sebagai mahasiswa, maka ia tidak akan tampak sama sekali sebagai sosok mahasiswa. Dalam bergaul dan berfikir, banyak mahasiswa yang masih memiliki pola pikir layaknya anak SMA. Dalam berperilaku dan bertindak, banyak mahasiswa yang lebih pantas disejajarkan dengan "preman". Lantas benarkah ada bedanya antara mahasiswa dan siswa?

Jika kita telusuri perbedaan yang terdapat diantara keduanya, maka kita akan mendapati beberapa perbedaan berdasarkan tinjauan yang kita gunakan. Diantaranya :

1. Perbedaan Makna

Secara pustaka, keduanya jelas berbeda. Siswa dalam banyak perspektif dimaknai sebagai pelajar di tingkatan Sekolah Dasar hingga Menengah. Ketika telah melewati jenjang tersebut dan melaju pada jenjang di atasnya, yakni sebagai pelajar tingkat perguruan tinggi maka predikat yang ia sandang bukan lagi siswa melainkan Mahasiswa.

2. Perbedaan sejarah

Dalam tinjauan sejarah, tidak banyak masyarakat Indonesia yang sempat merasakan indahnya gelar mahasiswa. Hal tersebut dikarenakan pada zaman dahulu pendidikan yang dikenyam masyarakat hanya terbatas pada sekolah rakyat yang tentu saja jenjang pendidikannya jauh dari perguruan tinggi. Adapun gelar mahasiswa hanya bisa didapat oleh kaum borjuis yang memiliki kekayaan melimpah.

3. Perbedaan Fisik

Jelas, seiring berbedanya jenjang usia maka perbedaan fisik juga menjadi akibat dari hal tersebut. perbedaan usia tersebut membawa perbedaan fisik lain seperti perbedaan kekuatan dan sebagainya.

4. Perbedaan Psikis

Mahasiswa dengan gelar maha-nya tentu harus dapat berfikir lebih matang daripada siswa. Bertambahnya usia, pengetahuan dan pengalaman membuat pola pikir mahasiswa selangkah lebih maju. Dalam kondisi tertentu dimana akal sehat sudah tidak lagi menjadi senjata utama, kita sering menemui sosok mahasiswa yang masih berfikiran kekanak-kanakan.

5. Perbedaan Tanggung Jawab

Mahasiswa memiliki predikat lain, yakni sebagai agent of chage (Agen perubahan), social control, dan predikat lainnya. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan bagi mahasiswa untuk tidak hanya memperkaya dirinya dengan ilmu perkuliahan, namun juga mahasiswa dituntut untuk dapat mengapresiasikan ilmunya kepada masyarakat.

Mengutip dari tulisan Ika Feni Setiyaningrum (Rema Post edisi 04/thn IV/Agustus 2010)” mahasiswa memiliki dunia berbeda dengan dunia siswa SMA. Dunia kampus mengajak mahasiswa bersikap lebih mandiri, pandai menghadapi tantangan dan problematika. Dunia kampus bukan hanya sekadar dunia mencari nilai akademik. Bukan sekadar dunia nongkrong. Dunia kampus, dunia inspirasi perubahan. Dunia kampus, wadah pencetak kader harapan bangsa. mahasiswa tak cukup hanya berkutat pada diktat-diktat kuliah atau mengurus tugas kuliah. Organisasi, sarana pembentuk mahasiswa bermental matang, mandiri, dewasa. Organisasi, sarana membangun komunikasi dan jaringan. Pengalaman organisasi sebagai bekalan dunia profesi ke depan”.

Wacana dan persoalan tentang mahasiswa tak pernah usai. Mahasiswa merupakan sosok yang selalu hangat diperbincangkan. Mahasiswa dalam sepak terjangnya tak selalu diapresiasi. Kritik juga menerpa mahasiswa, ada harapan yang digantungkan kepada mahasiswa. Mahsiswa juga dapat dikatakan sebuah komonitas yang sangat unik yang berada ditengah Masyarakat dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya. Berdasarkan kelebihan dan kesempatan yang dimilikinya, maka tidak pantaslah mahasiswa mementingkan kepentingan pribadi tampa memberi sumbangsih terhadap bangsa dan negara. 

Dari tulisan singkat tersebut diatas akan dapat kita tarik benang merah bahwa memiliki status mahasiswa bukanlah hal yang ringan dan remeh semata, namun tentu diimbangi dengan besarnya tanggung jawab yang harus dipikul oleh mahasiswa. Selamat kepada mahasiswa baru yang sudak menginjak kakinya di kampus, semoga tanggung jawab yang di lebelkan sebagai Mahasiswa bisa terwujud terutama tanggung jawab bagi diri sendiri, lingkungan, bangsa dan agama. Karena orang Tua akan sangat bangga jika anaknya sukses dunia dan akhirat, dan tidak sedikit anak-anak di negri ini yang tidak mendapatkan gelar Mahasiswa.

Billahi Fii Sabillilhaq Fastabiqul Qhairat


Azhar; Wakil Ketua KNPI Aceh (2013-2016)
Mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah 
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Provinsi Aceh (2010-2012)
Komentar Anda Disini!
Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates