Tradisi Meugang di Aceh

suasana pasar daging pada saat hari meugang di Aceh (foto: Istw)
Meugang adalah tradisi penting masyarakat Aceh, sebelum memasuki tiga even: Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Even ini dibagi dua. Bagi masyarakat perkotaan, even ini dimulai dua hari sebelumnya, yang dalam masyarakat pesisir dinamakan dengan meugang rantoe. Sedangkan satu lagi yang dilaksanakan masyarakat, satu hari menjelangnya.

Kenyataannya, dari tiga even itu, makna lebih mendalam dirasakan ketika mendekati bulan puasa. Sebagai sebuah tradisi, ia tidak wajib dilaksanakan. Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “tradisi” itu menunjuk pada dua posisi: (1) adat kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat; (2) penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.

Dari dulu hingga sekarang, setidak menyimpan tiga maksud mengapa bagi seseorang itu meugang begitu penting.

Pertama, bagi masyarakat Aceh, puasa itu sebagai suatu ibadah yang harus dipersiapkan secara khusus, sedemikian rupa. Pada bulan ini membutuhkan energi yang lebih besar dari biasanya. Energi ini dalam rangka untuk memadukan kekuatan untuk beribadah menjalankan puasa, dengan tanpa mengurangi kewajiban lain yang harus dilaksanakan seseorang. Maka ketika menyonsong ibadah demikian, adalah sesuatu yang masuk akal disiapkan sedemikian rupa. Hari makan-makan dimaksudkan sebagai persiapan itu, agar ketika puasa tiba waktunya, orang-orang tidak menjadikan makanan sebagai penggoda.

Kedua, karena ia harus dipersiapkan, dalam masyarakat awam berkembang haba, bahwa mencari 11 bulan itu adalah untuk mempermegah yang satu bulan. Mereka yang bekerja mencari rezeki di bumi Allah pada 11 bulan yang lain, semata-mata untuk mengurangi aktivitas dan fokus ke puasa yang hanya sebulan dalam setahun. Melalui tekad inilah, menyonsong puasa dipersiapkan secara bersahaja. Sehari atau dua hari sebelumnya sudah dipersiapkan dengan makan bersama berkumpul anggota keluarga. Istilah meugang rantoe menggambarkan keinginan berkumpulnya anggota keluarga, tidak hanya yang ada di masing-masing daerah, melainkan anggota keluarga yang bertebar di kota.

Ketiga, even solidaritas. Secara sosial, orang-orang harus selalu memperhatikan orang-orang yang di sekelilingnya. Idealnya tidak ada di sekitar orang mapan ditemukan ada orang yang tidak makan. Begitulah digambarkan, ketika meugang, idealnya tidak ada orang Aceh yang tidak mencicipi daging. Dengan demikian, setiap orang Aceh, berangkat dari tradisi meugang ini, idealnya sepanjang tahun, setidaknya mencicipi tiga kali daging. Bahkan ada orang yang tidak berkemampuan lebih, memelihara ayam atau bebeknya untuk dipotong pada even semacam ini.

Bertahun-tahun tradisi meugang ini terus dipertahankan oleh masyarakat Aceh, menjadi hal unik dan menarik yang tidak dimiliki oleh masyarakat lainnya yang ada di Indonsia. 


sumber: kupiluho.wordpress.com
Komentar Anda Disini!
Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates