Haedar Nashir : Keteladanan Ki Bagoes Hadikusumo dan Sukarno

Haedar Nashir. |Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Jakarta - Pendiri bangsa ini telah banyak memberikan teladan bagi anak cucunya. Mereka antara lain mencontohkan tiga jiwa mulia yang sebenarnya hal sederhana. Pertama mendatangi lawan untuk menjalin silahturahmi kembali, kedua tidak membalas perbuatan yang negatif dengan hal negatif juga dan yang ketiga dapat bersikap lemah lembut kepada semua orang.

"Ketiga hal tersebut adalah contoh jiwa mulia yang sederhana," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Hal itu dikatakan Haedar Nashir saat memberikan tausiyah dalam acara buka bersama di rumah dinas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan di Widya Chandra, Jakarta Selatan, Jumat (2/6/2017). Haedar kemudian mencontohkan sikap kenegarawanan dua tokoh bangsa ini yakni: Sukarno dan Ki Bagoes Hadikusumo.

Keduanya terlibat langsung dalam sidang BPUPKI yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara pada 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Kenegarawanan mereka ditunjukkan saat membahas soal sila Ketuhanan. 

Sukarno mengatakan bahwa dirinya muslim dan bangsa Indonesia. Dia akan membela Islam dalam permusyawaratan. "Bung Karno menyakinkan kaum muslim. Kalau saya muslim, saya buka dada saya di situlah Islam. Dan saya akan bela Islam dalam permusyawaratan," cerita Haedar dalam tausiyahnya. 

Presiden Jokowi yang hadir dalam acara buka bersama tersebut tampak takzim menyimak. Haedar kemudian juga menceritakan keteladanan Ki Bagoes Hadikusumo, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang ke-5. 

"Ki Bagoes Hadikusumo berkata, kunci terakhir dalam kompromi Piagam Jakarta, beliau mengatakan saya muslim, saya bangsa Indonesia tulen. Saya muslim saya berbangsa Indonesia yang raya dan Indonesia yang merdeka," lanjut Haedar. 

Haedar menyebut Sukarno dan Ki Bagoes Hadikusumo adalah contoh yang mempunyai jiwa kenegarawan. Mereka patut diteladani untuk saat ini melihat bangsa yang sedang rapuh. 

"Dua contoh itu (Sukarno dan Ki Bagoes Hadikusumo) adalah contoh jiwa kenegarawanan para pendiri bangsa kita. Hal itu yang perlu diteladani di saat rakyat sedang rapuh mari kita sirami mereka dengan keteladanan," papar Haedar.


|Detik.com
Komentar Anda Disini!
Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates