HAJI, PEUSIJUK DAN FENOMENA KEMUSYRIKAN


Alat Yang Digunakan Untuk Peusijuk | foto : Ist

Oleh : Said Mahyiddin Muhammad

Musim haji tiba kembali. Semoga mereka yang mendapat kesempatan menunaikannya memperoleh haji mabrur, karena Rasulullah s.a.w. bersabda: “…Haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali syurga.” (H.R. Muslim). Haji merupakan ibadah yang istimewa, karena hanya satu tempat di muka bumi ini sebagai tempat berhaji, yaitu Mekah, dan pada bulan yang telah ditentukan. Allah mewajibkan ibadah haji hanya bagi orang-orang yang mampu, baik finansial, kesehatan maupun keamanan. Umat Islam yang memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji, merupakan orang-orang pilihan Allah, sehingga mereka disebut tamu Allah. Tidak semua kaum muslimin memperoleh kesempatan untuk berhaji, meski banyak harta sekalipun. Oleh karena itu, berbahagialah bagi siapa yang mendapat panggilan Allah serta diberi kemudahan untuk menunaikannya.

Dalam rangka menghimpun kemampuan tersebut di atas, umat Islam (khususnya di Indonesia) menempuh bermacam cara. Untuk kemampuan finansial misalnya, ada yang menabung sampai puluhan tahun, ada yang menjual sawah-ladang, mengambil kredit ke Bank, menjual harta warisan, mengikuti arisan haji dan berbagai cara lainnya. Selain kemampuan finansial, kesehatan pun harus dijaga sedini mungkin agar terpenuhi kemampuan secara fisik. Keamanan pun juga harus diperhitungkan secara matang, agar para jama’ah tidak terancam jiwanya. Para calon jama’ah haji juga harus mengikuti manasik haji secara berkala. Di samping itu, setiap jama’ah harus rela meninggalkan keluarga dalam waktu yang relatif lama. Semua usaha tersebut dilakukan untuk mewujudkan impian menunaikan ibadah haji dan memperoleh haji mabrur.

Namun alangkah meruginya orang-orang yang berhaji, karena sebelum berangkat sudah melakukan ritual-ritual adat yang mengandung unsur syirik kepada Allah, seperti ritual peusijuk dalam masyarakat Aceh. Ritual peusijuk sudah menjadi “trend” para calon jama’ah haji. Adat peusijuk selalu dipahami seakan-akan menjadi bagian dari ibadah haji itu sendiri. Sehingga ada perasaan ketidaknyamanan dan ketidaksempurnaan ibadah haji kalau belum dipeusijuk.  Mulai peusijuk tingkat keluarga, peusijuk tingkat R.T./R.W, peusijuk tingkat Gampong, tingkat Kecamatan, Kabupaten sampai peusijuk tingkat Propinsi. Ritual peusijuk dilakukan sebelum berangkat maupun setelah pulang kembali ke kampung halaman. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ritual peusijuk sudah menjadi “berhala baru” karena begitu banyak harapan ghaib digantungkan kepadanya. Peusijuk sudah dijadikan wasilah (jalan pendekatan diri) kepada Allah. Dengan peusijuk do’a seseorang cepat dikabulkan oleh Allah. Celakanya lagi, ritual peusijuk itu dipraktekkan oleh sebagian besar Teungku dan Ulama, kemudian dilembagakan oleh penguasa dengan dalih reusam nenek monyang.

Unsur syirik dalam Peusijuk
Pertanyaan yang selalu muncul dalam msyarakat adalah, benarkah ada unsur kemusyrikan dalam upacara peusijuk itu? Jika benar ada unsur syirik, mengapa kebanyakan Ulama dan Teungku di Aceh, justru menjadi pelaku utama peusijuk? Bagaimana kita membuktikan secara syar’iyah bahwa peusijuk itu mengandung unsur syirik?

Berbagai potensi kemusyrikan dalam upacara peusijuk, dapat dilihat pada pemahaman masyarakat sehari-hari. Upacara peusijuk selalu dipahami memiliki kekuatan ghaib, seperti memperoleh keberkatan, keselamatan, ketentraman, kesehatan, memudahkan rezeki, dan lain-lain. Bagi jama’ah haji, peusijuk sering dijadikan sebagai wasilah dalam berdo’a untuk memperoleh haji mabrur. Manyoritas masyarakat sangat yakin peusijuek dapat mendatangkan semua itu, termasuk para tokoh agama dan intelektual. Pemahaman yang demikian sangat bertentangan dengan prinsip Islam sebagai agama tauhid (meng-Esakan Allah). Ketika berbagai harapan ghaib seperti keselamatan, keberkatan, ketentraman, rezeki, kesehatan, digantungkan kepada sesuatu selain Allah, maka manusia telah syirik. Karena tidak ada sesuatu pun baik di langit maupun di bumi yang dapat memenuhi atau mengabulkan harapan makhluk secara ghaib selain Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah: “Dan jika Allah ingin memberi kemudharatan kepadamu, tidak ada yang dapat menolak kemudaratan itu kecuali Dia. Dan jika Allah ingin memberi kebaikan kepadamu, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Al-An’am: 17). Dengan tegas Allah menyatakan, bahwa hanya Dia yang berkuasa mendatangkan manfaat dan mudharat, atau menolak suatu kemudharatan kepada makhluk.

Sementara dalam ayat lain Allah menegaskan: “Katakanlah (hai Muhammad)! Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula dapat menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki oleh Allah…” (Al-‘A’raf: 188). Allah juga berfirman: “Katakanlah (hai Muhammad), maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menghilangkan kemudharatan itu? Atau jika Allah hendak memberi rahmad kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menahan rahmat-Nya? Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya lah orang-orang berserah diri bertawakkal.” (Az-Zumar: 38). Dua ayat di atas, menegaskan pula, bahwa Rasulullah s.a.w, sekali pun tidak kuasa mendatangkan kebaikan atau menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Lihat juga Surah Yunus: 106-107, Surah Al-Ankabut: 17, Al-Ahqaf: 5-6 , Al-An’am: 17 dan An-Naml: 62.

Dari semua ayat tersebut dapat kita pahami, bahwa tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan mudharat kepada makhluk baik di langit maupun di bumi kecuali Allah. Lalu mengapa kita menyakini peusijuk dapat mendatangkan manfaat dan mudharat? Karenanya menggantungkan harapan keselamatan, keberkahan, musibah, do’a (menolak bala) kepada selain Allah, seperti upacara peusijuek jelas perbuatan syirik akbar (syirik yang pelakunya mendapat dosa besar). Sementara dosa besar karena syirik tidak diampuni Allah. (An-Nisa’: 48).

Dalil yang lain adalah Hadits Riwayat Ath-Thabrani: “Pernah terjadi pada zaman Nabi, ada seorang munafik yang selalu mengganggu orang mukmin, maka berkatalah salah seorang dari mereka (orang mukmin), “marilah kita beristighasah (mengantungkan harapan dengan cara berdo’a) kepada Rasulullah s.a.w, agar terhindar dari kemudharatan orang munafik itu.” Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak boleh kalian beristighasah kepadaku, tetapi beristighasah itu hanya kepada Allah saja.” Menurut Ibnu Taimiyah, Istighosah artinya meminta pertolongan dalam rangka menghilangkan kesulitan atau meminta diselamatkan dari berbagai musibah (Lihat Fathul Majid, Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Pustaka Azzam, 2005, hal. 306-309). Berdasarkan Hadits ini, beristighasah (memohon perlindungan) dengan menjadikan Rasulullah s.a.w, sebagai wasilah juga dilarang. Sebab Rasulullah s.a.w, sendiri bukan Tuhan, dan tidak ada sifat Ketuhanan pada beliau.

Upacara peusijuek yang dipraktekkan dalam masyarakat Aceh, mirip dengan Istighosah, karena bertujuan mengharapkan manfaat dan menolak kemudharatan kepada selain Allah. Meski pun do’a-do’a yang dibaca dalam upacara peusijuek ditujukan kepada Allah, namun harapan tidak digantungkan kepada Allah, tetapi kepada peusijuek itu sendiri. Atau harapan itu terbagi dua, sebagian kepada Allah dan sebagian yang lain kepada peusijuek. Dalam hal ini, peusijuek adalah tandingan bagi Allah. Ini jelas-jelas suatu kemusyrikan yang dibungkus dengan syari’at, sehingga banyak masyarakat tertipu dan jatuh kepada syirik.

Niat tidak merobah syirik menjadi kebaikan
Ada pendapat menyatakan, melakukan peusijuk tergantung niat. Jika niatnya baik, maka tidak jatuh kepada syirik, kecuali sengaja menyekutukan Allah. Apalagi pada saat peusijuk dilaksanakan, Ulama dan Teungku membaca do’a-do’a, Al-Fatihah, Basmalah, shalawat, dan bahkan zikir-zikir tertentu. Yang penting niat kita, kalau kita berniat baik maka akan menjadi baik. Benarkah demikian? Jika semua perbuatan tergantung niat pelakunya, maka orang boleh mencuri, merampas harta orang, korupsi untuk tujuan membangun masjid, bersedekah, menyantuni dan anak yatim. Orang boleh berzina dan membunuh setelah membaca Al-Fatihah, shalawat dan zikir. Boleh melakukan berbagai kemusyrikan asal diiringi dengan do’a dan membaca Yasin. Boleh pula melokalisasi pelacuran, perjudian, minuman keras dan berbagai maksiat lainnya, asal dengan niat baik, atau membumbuinya dengan zikir dan do’a. Betapa rusaknya pemahaman demikian? Namun inilah argumentasi mereka yang memproklamirkan diri Ulama dan tokoh Adat. Maka tersesatlah para pengikut-pengikut mereka yang panatik. Padahal sesuatu yang diharamkan Allah dan diancam pelakunya seperti syirik, tidak bisa berobah menjadi amal shaleh hanya dengan niat.

Peusijuk bukan ‘Uruf
Ada pula sebagian orang menganggap, bahwa peusijuek yang diamalkan masyarakat Aceh, sama dengan ‘uruf (adat kebiasaan dalam masyarakat tertentu yang dijadikan sumber hukum oleh para Mujtahid) yang dijadikan hujjah oleh para mujtahid (Ulama). Padahal ‘uruf yang digunakan sebagai hujjah oleh para mujtahid terdapat kriteria dan syarat yang ketat, bukan setiap adat manusia dapat menjadi ‘uruf. Kalau upacara peusijuek, dipaksakan sebagai ‘uruf, maka peusijuk merupakan ‘uruf yang fasid (rusak, sesat), karena peusijuek mengandung sistem keyakinan kepada yang ghaib (aqidah) dan mengandung sistem ritual (ibadah). ‘Uruf yang fasid (rusak) keluar dari metode pemahaman Islam yang rusak pula. Di samping itu, peusijuek adalah ritual (ibadah) agama hindu sebelum Islam. Menjadikan ibadah agama Hindu menjadi bagian ajaran Islam, mesti ditetapkan berdasarkan wahyu Al-Qur’an atau hadits Rasulullah s.a.w. yang shahih, tidak boleh berdasarkan ‘uruf.  

Keyakinan manusia kepada yang ghaib (aqidah) dan upacara ritual (ibadah) agama lain, tidak bisa menjadi bahagian ajaran Islam, hanya dengan membaca Surah Al-Fatihah, Shalawat, Basmalah, Surah Yasin dan lain-lain. Oleh karena itu, ‘uruf yang dibenarkan dalam Islam adalah ‘uruf yang tidak merusak tauhid dan sistem ibadah Islam, dan hanya dalam bidang mu’amalah. Misalnya dalam jual beli, kebiasaan suatu msyarakat yang tidak melakukan ijab dan qabul, padahal syarat sah jual beli harus ada ijab dan qabul. Maka selama jual beli itu menimbulkan keridhaan antara penjual dan pembeli, meski tanpa berjabat tangan pun (ijab dan qabul) maka jual beli itu tetap sah. Itu pun selama tidak mengandung unsur-unsur penipuan yang dilarang. Sementara bidang aqidah dan ibadah bukan lapangan ‘uruf. Jika semua adat manusia dapat dijadikan ‘uruf/hujjah, maka rusaklah kemurnian Islam. Sedangkan Islam adalah agama wahyu, bukan agama budaya. Meski pun Islam sangat menghargai budaya manusia, tetapi bila budaya itu merusak tauhid dan ibadah maka budaya itu bathil, termasuk peusijuek. Bahkan adat orang Arab sekali pun, jika mengandung unsur syirik kepada Allah tetap haram dikerjakan, walau pun dipromosikan oleh seorang atau banyak Ulama, tokoh adat dan para intelektual. Oleh sebab itu, bagaimana pun upacara peusijueh itu dibungkus dengan shalawat, do’a, dilakukan oleh seorang Teungku/Ulama/Ustad, upacara peusijuek tetap sebagai fenomena kemusyrikan yang pelakunya mendapat dosa besar.

Dengan demikian, sia-sialah ibadah haji yang diawali dengan ritual-ritual Hinduisme seperti peusijuk yang sudah jelas mengandung unsur kemusyrikan. Ibadah apa pun tidak akan diterima oleh Allah jika dalam pelaksanaannya mencampuri dengan unsur syirik (menyekutukan Allah). Walhasil, sebagamana kata orang Aceh, “habeh keubeu habeh lampoh, keneuleuh buet gereuda sampoh.” Dalam bahasa yang lain, “mita pahala ubee beuteh, meuteumeu paleeh ubee pha.


(Said Mahyiddin Muhammad, adalah staf pengajar Al-Islam dan Kemuhammadiyah UNMUHA. Email: saidmahyiddin27@gmail.com)
Komentar Anda Disini!
Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates