MERUNTUHKAN PANATISME MAZHAB

Said Mahyiddin Muhammad |foto : dok. RoketNews.com

Oleh: Said Mahyiddin Muhammad

Pertanyaan yang selalu menyelimuti kembali benak umat Islam di Aceh adalah: Pertama, apakah seseorang harus bermazhab dalam beragama? Kedua, apa sebenarnya Mazhab itu dan bagaimana kita memahaminya? Ketiga, benarkah para Imam Mazhab menyuruh kaum muslimin panatik kepada salah satu Mazhab? 

Beberapa pertanyaan di atas muncul kembali dalam masyarakat Aceh, dalam dua dekade terakhir, tepatnya setelah Tsunami dan perdamaian Aceh. Apalagi akhir-akhir ini Mazhab Syafi’i bagi sekelompok orang di Aceh, bagaikan “Al-Qur’an baru” yang turun dari langit. Sehingga Mazhab Syafi’i menjadi label agama yang mutlak, seakan-akan jalan menuju surga hanya lewat Mazhab Syafi’i. Ruang-ruang perbedaan pendapat dan keyakinan dalam beragama di tengah-tengah masyarakat yang sebelumnya sudah terbiasa, kembali menimbulkan gesekan. 

Sindrom “mabuk Mazhab” ini melanda sebagian besar mereka yang menamakan diri ulama Aceh. Cahaya Al-Qur’an dan Al-Hadits yang begitu luas kembali dipadamkan oleh panatisme Mazhab yang sempit. Belum lagi dalam praktek ajaran Islam sehari-hari, jangankan sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, dengan Mazhab Syafi’i pun belum seluruhnya sesuai. Malah dalam beberapa hal bertentangan dengan Mazhab Syafi’i, seperti kenduri kematian, Suluk 40 hari, kenduri kuburan, mengkeramatkan kubur ulama, zikir berjama’ah dan lain-lain. 

Tulisan ini mencoba menjelaskan tentang apa itu Mazhab, fungsi dan sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat para Imam Mazhab. Pada bagian akhir tulisan ini, penulis akan mengutip pesan-pesan para Imam Mazhab yang empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris al-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Kutipan ini penting untuk mengetahui, apakah benar perilaku dan pola pikir orang-orang yang mengklaim diri pengikut Mazhab tertentu dengan pesan Imam pemilik Mazhab tersebut. Sehingga pembaca dapat menilai orang-orang yang mengembar-gemborkan diri pengikut suatu Mazhab sesuai dengan kenyataan atau tidak.   

Definisi Mazhab

Secara bahasa, kata mazhab adalah “isim makan” yang berarti tempat berpergian. Menurut istilah fiqh, mazhab memiliki dua makna. Pertama, mazhab berarti jalan pikiran atau metode yang digunakan seorang mujtahid (orang yang berijtihad/ulama) dalam menetapkan hukum terhadap suatu kejadian. Kedua, mazhab juga berarti pendapat atau fatwa seorang mujtahid atau mufti (ulama yang memberi fatwa) dalam memutuskan hukum suatu peristiwa, dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w. Istilah mazhab tidak hanya digunakan dalam bidang fiqh, tetapi juga dalam aqidah. Dengan demikian, mazhab fiqh adalah kitab-kitab yang memuat berbagai fatwa dan metode pengambilan hukum Islam terhadap kasus-kasus yang bersifat amali (praktis), baik yang sudah jelas hukumnya dalam Al-Qur’an dan Hadits, maupun yang belum jelas hukumnya. 

Definisi Ikhtilaf (Perbedaan Pendapat)

Ikhtilaf adalah perbedaan metodologi para ulama dalam mengistinbatkan (mengeluarkan) hukum Islam dari teks-teks Al-Qur’an dan Al-Hadits Rasulullah s.a.w. Ikhtilaf tidak selalu identik dengan perselisihan. Sering kita menemukan perselisihan yang tidak didasarkan pada Nash Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan tidak semuanya dalam rangka mencapai kebenaran. Akan tetapi perselisihan lebih kepada mempertahankan fanatisme dan taqlid buta. Sangat banyak perselisihan dalam Islam disebabkan fanatisme dan hawa nafsu, seperti munculnya Syi’ah dan Khawarij pada awal Islam, lahirnya aliran-aliran tasawuf serta Mazhab aqidah. Sedangkan Ikhtilaf adalah perbedaan yang didasarkan pada Nash Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam rangka mencari kebenaran. Ikhtilaf di kalangan ulama, sejak masa shahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in tidak untuk saling mencela dan merendahkan satu sama lain. 

Fungsi Mazhab

Mazhab dalam Islam berfungsi sebagai “guru” untuk memahami isi Al-Qur’an dan Hadits. Sering juga orang menyebut sebagai jalan yang dilalui untuk memahami Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Mengingat semua Mazhab merupakan produk Ijtihad, maka kebenarannya tidak mutlak seperti Al-Qur’an dan Hadits. Karena itulah Imam Syafi’i berkata: “Pendapatku ada benarnya, tapi masih terbuka kemungkinan untuk salah. Pendapat orang lain ada salahnya, tetapi masih terbuka kemungkinan untuk benar.” Oleh sebab itu, Mazhab hanya berfungsi sebagai “kompas” petunjuk jalan menuju pada kepahaman Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah s.a.w. Bukan sebaliknya, Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah s.a.w, menjadi subordinasi Mazhab. Dan yang lebih rusak lagi, orang menolak Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah s.a.w, hanya karena bertentangan dengan Mazhab yang mereka ikuti. Ini sebuah kekeliruan yang besar dan menyesatkan.

Mengapa Terjadinya Ikhtilaf Para Ulama?

Ikhtilaf di kalangan para ulama terjadi disebabkan oleh beberapa sebab yang sulit dihindari, sebagaimana dikemukan Syeikh Mahmoud Syaltout, dalam bukunya “Fiqh Muqaran,” yaitu:

1. Dalam Al-Qur’an terdapat lafadz-lafadz yang memiliki arti ganda (musytarak), seperti lafadz quru’ dalam Surah Al-Baqarah, ayat 228. Allah berfirman: 

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ
“Dan perempuan-perempuan yang dicerai oleh suaminya hendaklah beriddah selama tiga kali quru’.” Lafdz quru’  dalam ayat di atas memiliki makna ganda yang semuanya mungkin benar (mustarak) yaitu suci dan haidh. Imam Abu Hanifah, berpendapat, perempuan yang dithalak oleh suaminya harus beriddah (menunggu tidak boleh menikah dengan laki-laki lain) selama tiga kali haidh (Quru’). Sementara Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, berpendapat bahwa perempuan yang dicerai oleh suaminya harus beriddah tiga kali suci (Quru’). Kedua pendapat tersebut di atas mungkin benar. Di samping itu, dalam Al-Qur’an juga terdapat lafadz hakikat dan majaz, lafadz sharih dan kinayah, lafadz mutlak dan muqayyad dan sebagainya, sehingga dalam menetapkan hukum para ulama sering terjadi perbedaan pendapat.

2. Perbedaan waktu dan tempat serta kasus yang dihadapi. Perbedaan waktu dan tempat munculnya suatu kasus hukum juga salah satu faktor terjadinya ikhtilaf di kalangan para ulama. Masalah ini telah muncul sejak masa shahabat. Kita ambil contoh kasus perceraian. Pada masa Nabi dan masa Abu Bakar, untuk menjatuhkan thalak kepada istri, suami cukup mengucapkan satu kali, maka jatuh thalak satu. Namun pada masa Umar bin Khattab, tiga kali pengucapan baru jatuh thalak satu. Penyebabnya adalah, masa Nabi dan Abu Bakar, orang belum mempermainkan kata “thalak.” Sebaliknya masa Umar, di tengah kaum muslimin sudah mulai mempermainkan kata “thalak.” Jika putusan hukum mengikuti masa Nabi dan Abu Bakar, maka negara akan sibuk mengurus orang bercerai saja. Kemudian tidak semua kasus yang dihadapi oleh para ulama, didapatkan nash hukumnya. Sehingga satu-satunya jalan, mereka harus berijtihad. Ketika berijtihad para ulama menggunakan metodologi yang belum tentu sama antara satu dengan yang lain. Sehingga menimbulkan hukum yang berbeda-beda pula.

3. Faktor Riwayat atau Hadits. Para ulama tidak sederajad dalam menerima Hadits Rasulullah s.a.w. disebabkan jumlah shahabat yang mereka temui tidak sama. Ada hadits yang diketahui oleh sebagian ulama dan tidak diketahui oleh ulama lain. Sementara para shahabat juga tidak sederajad dalam mendengar hadits dari Nabi s.a.w. Ada shahabat yang hanya mendengar satu hadits saja dan ada sampai puluhan, ada yang ratusan dan ada mencapai ribuan hadits, seperti Abu Hurairah dan Anas bin Malik. 

4. Berbeda dalam menggunakan kaedah-kaedah Ushul Fiqh ketika menetapkan hukum. Contohnya tentang perintah ziarah kubur. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dulu aku larang kalian ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah kubur itu, karena ia akan mengingatkan kalian kepada akhirat.” Dalam Hadits tersebut dinyatakan bahwa Nabi s.a.w, awal melarang orang berziarah, kemudian beliau menyuruh berziara. Timbul pertanyaan, apakah hukum ziarah kubur itu? Sebagian ulama berpendapat hukumnya sunnah karena menerapkan kaedah: “Perintah setelah larangan hukumnya sunnah.” Namun sebagian ulama yang berpendapat hukum ziarah kubur itu mubah (boleh), karena menggunakan kaedah yang lain yaitu: “Perintah setelah larangan hukumnya boleh.” Dengan demikian, perbedaan para ulama dalam menerapkan kaedah Ushul, maka berbeda pula hukumya. 

5.  Disebabkan adanya dalil yang diperselisihkan menggunakannya, seperti Istihsan, Maslahah Mursalah, Qaul shahabat, ‘Uruf, Amalan Penduduk Madinah, Ijma’ Shahabat dan lain-lain. Tidak semua ulama menjadikan dalil-dalil tersebut sebagai landasan hukum. 

6. Perbedaan kapasitas intelektual masing-masing ulama tentang masalah-masalah sumber ajaran Islam, terutama dalam bidang Hadits Nabi s.a.w. Sehingga ada hadits yang menjadi hujjah bagi sebagian ulama dan ditolak oleh sebagian yang lain. Ada ulama menolak Hadits Ahad (selain Hadits Mutawatir) sebagai landasan aqidah, namun ada yang menerimanya.

Sebab-Sebab Terjadi Perselisihan

Imam Muhammad Abu Zahrah, dalam bukunya “Aliran Politik dan Aqidah Dalam Islam” mengemukakan delapan penyebab terjadinya perselisihan di kalangan kaum muslimin. Sebab-sebab ini agak lebih umum dari sebab-sebab ikhtilaf/khilafiyah di atas. Sebab-sebab tersebut adalah sebagai berikut:

1. Fanatisme Arab (Ashabiyah). Muhammad Abu Zahrah, menganggap masalah fanatisme Arab menjadi sebab yang paling penting terjadinya perselisihan dalam Islam. Pada masa Rasulullah, sifat fanatisme orang Arab dapat diredam, kemudian muncul kembali pada akhir pemerintahan Usman bin Affan.

2. Perebutan Kekhalifahan (kekuasaan). Hal ini berkisar pada masalah siapa pengganti Nabi, s.a.w. setelah beliau wafat. Kaum muslimin dari golongan Anshar menganggap merekalah yang paling berhak memimpin kaum muslimin setelah Nabi s.a.w, wafat. Mereka mencalonkan Saad bin Ubadah, sebagai Khalifah. Golongan Muhajirin menganggap mereka yang paling berhak dan mencalonkan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai Khalifah. Akhirnya semua kaum muslimin berbai’at kepada Abu Bakar. 

3. Pergaulan kaum muslimin dengan penganut agama terdahulu, dan masuknya mereka dalam Islam. Banyak penganut agama Yahudi, Nasrani dan Majusi masuk Islam, sedangkan pola berfikir dan landasan berfikir mereka tidak berubah. Sehingga mereka berfikir tentang hakikat ajaran Islam dalam perspektif keyakinan lama. 

4. Penerjemahan buku-buku filsafat. Pengaruh penerjemahan buku-buku filsafat terhadap perbedaan pendapat dalam Islam sangat jelas. Nuansa pemikiran Islam banyak dipengaruhi oleh pertentangan antar mazhab filsafat kuno, tentang alam, materi dan metafisika. Muncullah kelompok-kelompok skeptisisme (aliran kesangsian) dari kalangan kaum muslimin.

5. Melakukan pembahasan masalah-masalah yang rumit. Tersebarnya pemikiran filsafat di kalangan umat Islam telah menyeret mereka ke-berbagai kajian yang berada di luar kemampuan akal manusia. Perbedaan pendapat di kalangan Ulama Kalam termasuk dalam kategori ini. Akibatnya terjadi perselisihan sengit di kalangan kaum muslimin, terutama dalam bidang aqidah.

6. Munculnya pendongeng. Pendongeng pertama kali muncul pada masa Usman. Mereka sering keluar-masuk masjid menceritakan hal-hal yang khurafat dan tahayul. Ali bin Abu Thalib, pernah mengusir mereka dari masjid.

7. Dicarinya tafsir terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Padahal di dalam Al-Qur’an dilarang mencari tafsir terhadap ayat-ayat mutasyabbih (Ali Imran: 7). Ayat-ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak dapat kita pahami kecuali dengan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang shahih. Contohnya huruf potong yang terdapat pada awal Surah (Alif Lam Mim, Yaasin, Thaaha, Nuun, Qaaf). Termasuk juga sifat-sifat Allah, ayat-ayat yang menyebut bentuk Allah (tangan Allah, wajah Allah) semua itu wajib kita imani sebagaimana diterangkan Allah dan Rasulullah s.a.w, tanpa harus membagi sifat-sifat Allah itu dengan membuat nama-nama baru.

8. Penggalian hukum syar’i. Ini dapat dilihat dalam ikhtilaf/khilafiyah di atas. Penggalian hukum Syar’i pada masa awal tidak menimbulkan perselisihan, karena masing-masing ulama masih menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai rujukan. Perselisihan terjadi ketika panatisme Mazhab berkembang di dunia Islam. Para Muqallid Mazhab, melakukan pembelaan dan membangun fanatisme kepada Mazhab yang mereka anut tanpa korektif. Al-Qur’an dan Hadits Nabi bukan lagi sebagai tolok ukur apa yang benar dan apa yang salah. Perselisihan tidak akan muncul, kecuali dari orang-orang yang mendahulukan kepentingan kelompok dan mengagung-agungkan guru. Ketika Mazhab lebih dijunjung tinggi dari Al-Qur’an dan Hadits, maka sesungguhnya telah terjadi pengkhianatan terhadap Allah dan Rasulullah s.a.w. Sebab Imam-Imam Mazhab bukan Nabi, yang ucapanya tidak boleh ditolak. Padahal mereka sama sekali tidak mengajarkan sikap yang demikian. 

Pesan-Pesan Imam Mazhab Yang Empat

Pesan Imam Nu’man bin Tsabit, yang dikenal dengan Imam Hanafi ( 80-150 H):

اِذَ قُلْتُ قَوْلاً يُخًا لِفُ كِتَابَ اللَّهِ تَعَالَي وَخَبَرَ الرَّسُوْلِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَا رُكُوْا قَوْلِيْ 
“Apabila saya mengutarakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah s.a.w, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Diriwayatkan oleh Al-Filani dalam Al-Iiqazh).  

اِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِي 

“Apabila suatu hadits itu shahih, itulah Mazhabku.” (Lihat Al-Albani, Sifat Shalat Nabi s.a.w, hal. 57). 

Pesan Imam Malik bin Anas, yang disebut dengan Imam Maliki (93-179 H):  Beliau berpesan:
اِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ فَنْظُرُوْا فِيْ رَأْيِيْ فَكُلُّ مَاوَافَقَ الْكِتَابَ وَسُنَّةَ فَخُّذُوْهُ وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَارُكُوْهُ 
“Saya ini hanya manusia biasa, bisa salah dan bisa benar, oleh karena itu telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ambillah pendapat tersebut. Dan jika pendapatku itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah pendapatku tersebut.” (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Al-Jaami’).

 لَيْسَ اَحَدٌ بَعْدً النَّبِي صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلاَّ وَيُؤْخَّذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ اِلاَّ النَّبِي صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
“Tidak ada seorang pun sepeninggal Nabi s.a.w, kecuali pendapatnya bisa diambil ataub bisa juga ditolak, kecuali perkataan Nabi s.a.w.“ (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Irsyadus Saalik).

Imam Mazhab yang ketiga adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H), yang dikenal Imam Syafi’i. Beliau berpesan:
أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَي اَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَحِلُّ لَهُ اَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin telah Ijma’ bahwa barang siapa yang mengetahui suatu Sunnah dari Rasulullah s.a.w, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut hanya karena mengikuti pendapat seseorang.” (Ibnu Qayyim, dalam I’lam Muwaqi’in).

اَذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُوْلُوْا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوْا مَا قُلْتُ (وَفِي رَوَايَةٍ) فَاتَّبَعُوْهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوْا اِلَي قَوْلِ أَحَدٍ  

“Apabila kalian menemukan dalam kitabku hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah s.a.w, maka berbendapatlah kalian dengan Sunnah Rasulullah tersebut, dan tinggalkanlah apa yang aku katakana. (Dalam riwayat lain Imam Syafi’i, mengatakan: “Maka ikutilah Sunnah tersebut dan jangan kalian pedulikan pendapat seorang pun.”) (Al-Harawi dalam Dzmmul Kalaam).

Pesan Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H): 
لاَ تُقَلِّدْنِي وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِيَّ وَلاَ الأوْزَاعِيَّ وَلاَ الثَّوْرِيُّ وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا

“Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan kalian taqlid kepada Imam Malik, jangan kalian taqlid kepada Imam Syafi’i, jangan kalian taqlid kepada Imam Auza’i, dan jangan pula kalian taqlid kepada Imam Ast-Tsauri, dan Ambillah dari mana mereka mengambinya (Al-Qur’an dan Hadits Nabi).” (Ibnu Qayyim dalam I’lam Muwaqi’in).  
رَأْيُ الْأَزَاعِيُّ وَرَأْيُ مَالِكٍ وَرَأْيُ أَبِيْ حَانِفَةَ كُلُّهُ رَأْيُ وَهُوَ عَنْدِي سَوَاءٌ وَاِنَّمَا الْحُخَّةُ الآثَارِ

“Pendapat Imam Auza’i, pendapat Imam Malik, pendapat Abu Hanifah, semua itu hanya pendapat, bagi saya semuanya sama saja, yang menjadi hujjah (dalil agama) adalah At-Tsar (Hadist Rasulullah s.a.w.). (Riwayat Abu Dawud dalam Masaail Imam Ahmad).

Jika kita perhatikan pernyataan para Imam Mazhab di atas, jelas sekali bahwa, tidak satu pun dari mereka yang membangun fanatisme Mazhab. Semuanya memerintahkan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah bila perkataan mereka berlawanan dengan keduanya. Oleh sebab itu, sikap panatisme Mazhab yang dibangun oleh Pemerintah Aceh, atas dukungan sekelompok orang yang mengaku bermazhab Syafi’i, sangat bertentangan dengan pernyataan beliau. Imam Syafi’i sama sekali tidak menganjurkan sedikit pun, agar umat Islam di akhir zaman ini berpegang teguh kepada Mazhabnya. Sebab jika beliau menganjurkan yang demikian, berlawanan dengan sekian banyak ayat Al-Qur’an (An-Nisa’: 59, An-Nisa’: 80, Al-Ahzab:21, Al-Imran: 31-32, Al-A’raf: 157, Al-Hasyir: 7) dan Hadits Rasulullah s.a.w. Sangat mustahil seorang Imam Syafi’i melakukan hal yang demikian. Tetapi orang-orang tetap menjual nama besar Imam Syafi’i, untuk berdusta atas nama beliau.  

Panatik kepada Mazhab atau pendapat seseorang dengan mengabaikan Sunnah Rasulullah s.a.w, bukanlah tradisi keilmuan yang dibangun oleh para ulama. Oleh karena itu, umat Islam harus kembali menggali hukum-hukum dari sumbernya yang primer, yaitu Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w, berdasarkan kaedah-kaedah Ushul yang telah mereka ajarkan. Umat Iaslam tidak hanya mempelajari empat Mazhab di atas, tetapi banyak literatur yang lain juga harus dipelajari untuk memperkaya khazanah intelektual Islam.


Komentar Anda Disini!
Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates