Kecolongan Dalam Berfikir

Muhammad Fajar Ramadhan (Sekbid Hikmsh PC IMM Abdya) | foto : Ist
Oleh : Muhammad Fajar Ramadhan

Manusia dikaruniai akal dan fikiran oleh Allah SWT,  dan disitulah terletak perbedaan antara manusia dengan hewan. Tentu pemikiran tersebut menjadi alat bagi setiap insan untuk terus menjadikan dirinya sebagai manusia paripurna, jika pemikiran tersebut diletakkan pada dimensi positif.

Berfikir kritis, logis,sitematis dan cerdas merupakan dambaan bagi manusia yang menganggap dirinya sebagai manusia merdeka. Namun kebebasan tersebut terkadang cenderung salah diartikan oleh sekelompok orang yang meletakkan pemikiran yang seharusnya tidak perlu untuk dipikirkan. Salah satunya adalah memifikirkan bagaimana caranya menemukan zat Tuhan.

Maka disinilah manusia terseret oleh pemikirannya sendiri dan kecolongan dalam memaknai sebuah pemikiran.

Di negara yang menganut sistem demokrasi, tentunya ide dan gagasan tidak dibatasi untuk menyampaikannya kepublik, semasih ide dan gagasan tersebut tidak menyalahi norma-norma dan hukum yang telah disepakati dan dituangkan dalam bentuk peraturan (UU).

Namun demikian, ada hal – hal yang spesifik yang harus dipahami, dimana pemikiran yang dibungkus dalam bentuk ide dan gagasan tersebut mempunyai ruang yang berbeda ketika disampaikan dalam bentuk kritikan publik yang bersifat kritis.

Dalam perjalanan demokrasi di Indonesia, rakyat sebagai orang yang mengkonsumsi informasi publik pasti memiliki persepsi yang berbeda dalam “menghakimi” sebuah persoalan, misal terkait persolan pejabat publik yang memiliki masalah. Tentu dalam memberikan kritikan terhadap pejabat tersebut memiliki seni dan gaya masing – masing, ada yang bersifat frontal, sentilan dan ada juga yang memilih diam dengan membatin dihati.

Menyimak berbagai kasus yang melanda beberapa orang yang tergolong kedalam kaum intelektual (aktivis) beberapa tahun terakir, penulis melihat demokrasi di Indonesia mengalami degradasi dalam pemaknaannya. Salah satu contoh ketika para aktivis meneriakkan sebuah kebenaran yang diklaim oleh sekelompok orang sebagai makar dan tidak pancasilais. Belum lagi saat sekelompok mahasiswa yang menyentil penguasa demi perbaikan yang berujung pada penegak hukum.

Baru – baru ini publik dihebohkan dengan kasus penelokan review yudicial yang diajaukan oleh sekelompok organisasi terkait LGBT, Perzinaan dan kumpul kebo ke Mahkamah Kontitusi, disini berbagai asumsi publik muncul kepermukaan, tentunya ada yang pro dan kontra terhadap penolakan tersebut. Maka tak jarang publik berasumsi secara frontal terkait kasus tersebut bahkan ada yang mengklaim kelompok pengaju review yudicial tersebut mengkriminalisasi kaum Sodom (LGBT).

Dari beberapa kasus tersebut, penulis mencoba mendalami setiap persoalan yang melanda negeri demokrasi, tentu disini penulis berasumsi terjadinya “penghakiman” dan pembungkaman kaum intelektual yang dilakukan secara sistematis oleh kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan secara pribadi dan kolega.
Komentar Anda Disini!
Diberdayakan oleh Blogger.
Sora Templates